‚_6‚_

demikian, ketjoeali kalau hal ini soenggoehz hendak mempen

d lihatkanlgagabbtani sertaygembiranja sahadja pada raïat jang

diperintahnja. Politiek demikian rasanja ada koerang segar. Dímana tanah Hindia lagi bergojang, sedang pendoedoeknja lagijberíchtiar dan baharoe sedan: dan" tídoernja, rasa hatisaja salah sekalí apabila Nederland memberí tjonto pada Boemi Poetera,‘ lezat tjita rasanja banjgsa jang seratoes tahoenlama» nja soedah bisa melepaskan diri dan’ koengkoengan orang lain. \Dengan tída sengadja Nederland boleh membangoenkan nafw soe Boenn‘ Poetera, sedang boleh djadí bertambah keras per» tjintaännjanëzkan rnelepaskan dlri dan‘ koengkoengam Dengan. tida sengadja seolah—olah Nederland berkata: „Líhatlah, Wa-

hai Boemí Poetera, tjara begimana kamí meínget harí ke-l

lepasan dan’ koengkoengan itoe. Betapa lezat tjita rasanja bangsa jang tida terperintahitoe! Ichtiarkan poelalah olehmoe sekalian mentjari kelepasan.‘ . . . . .

Kalau nanti datang boelan November, Belandaz tetamoe

‘disiní soenggoeh ada mempermaínkan api didalam doenia po-

litiek. Segala bahaja jang bísa tersebab oleh perboeatanitce, ia boleh pikoel sendírl. Walaupoerísaja oempamanja seorang Belanda . . . . tída nanti saja koeat memikoel tanggoengan sebagai ítoe.

Kalau saja oempamanja seorangv Belanda, saja tjegah kera- maian íni. Nanti saja toelís antero soerat kabar, bahwa terse— sat maksoed mereka jang hendak memoeliakan harí jang ber- erti itoe ditanah Hindía, teristínuewa dídalam moesím iní, di- mana awan gelap berkoempal-koempal dan‘ Tímoer . . . . .

Nanti saja toendjoekkan pergerakan anak Hindia dewasa ini pada bangsakoe,

Tída nanti saja biarkan jang bangsa’ saja menghína demikian djalan dengan tida sengadja pada anak Hindía jang moelai sedar darí tidoernja dan moelai berasa bahwa ia ada kecljepit. Soenggoeh-soenggoeh! Segala tenaga akan saja koempoelkan boeat mentjegah perboeatan bangsa saja jang akan dilakoe— kannja nanti diboelan November, Ia . . . . . . . . kalau saja bangsa Belandal

_.7‚._

Tapi . . . . . . ‚saja boekan Belanda, Saja tjoema seorangz *

koelít hítam, anak darí tanah Hindia, djadjahan keracljaän Nederland. Djadi saja tida akan membantah maksoed Neden land jang leloeasa dìdalam djadjahannja, Kalau saja memban» tah, tentoe Nederland masjgoel pada saja, kerna adakah lajak, kalau saja tjampoerz moeloet selagidjoengdjoengan saja melakoekan sekehendaknja? Perboeatan mentjegah itoe boleh djadi diterima salah oleh Nederland, seolah-olah saja menghina. Itoe saja tída soeka‘, saja tida boleh; kalau saja ada seorang Belanda, tentoe saja tida soeka dan tida boleh djoega meng— hina pada bangsa lain, kendatipoen bangsaitoe tjoema bangsa jang terperintah. l r _

Kalau saja menghína pada Nederland, sarna djoega cle— ngan menghína pada Srí Baginda Radja. Boekankah itoe tída boleh, kerna saja raîat Srí Baginda, dan radja saja haroes saja sembah. >

ltoelah sebabnja maka saja tida membantahl

Tída, tida nanti membantah, melainkan saja toeroet ber» soeka raja pada pesta jang akan datang. Kalau nanti datang

soerat edaran mínta oeroenan boeat ongkos pesta, saja toeroet

memberi Wang, walaupoen dengan keloearan Wang itoe saja nanti kepaksa menarik ongkos dalam roemah tangga.

Dan gadji saja jang tida berapa, saja akan keloearkan se» bahagian, karena wadjib bagi saja toeroet bersoeka raja, di— mana djoengdjoengan saja bersoekwsoekaän menginget hari kelepasan dirinja dan’ tindísan bangsa lain. Karena saja bang— sa terperintah jang lahir ditanah djadjahan Nederland íni. Nanti saja persílakan semoea bangsa saja akan toeroet bersjoeka» soekaän pada hari jang moelia itoe bagi djoengdjoengan ka— mi sekalian, karena walaupoen pesta itoe sematwmatakepoe- njaän orang Belanda, tapi waktoe itoe poen ada baik boeat memperlihatkan kesetiaän dan ketjintaän pada djoengdjoengan kita. Djadi kita ada sempat‘ memperlihatkan toendoek kita semoea pada Nederland. Alarigkah senangnja hati saja. Oen— toenglah saja boekan Belanda.

Sehíngga itoelah dahoeloe kías sindiran. Sebagimana saja njatakan, wadjiblah bagí kami sekalian