__26__

Njatalah maksoednja patokan D bahoea alam ini tiada berdiri dengan sendirinja, tetapi berdiri pada dzat, dan dzat

inilah jang berdiri dengan sendirinja.

Apa erti berdiri dengan sendirinja kita tiada oesah oelangi lagi disini. Dari sebab itoe, terang sekali bahoea patokan D tiada béda dengan C, hanjalah bédanja tentang seboetan alam adalah disini dipandang sebagai sipat, jang tiada mempoenjai kekoeatan sendiri.

Maskipoen demikian, kita djoega tiada sanggoep pikirkan, bagaimana benda jang sebesar alam ini dikata sipat, karana kaloe alam ini hanja sipat, jang manatah dzatnja? Karana kita beloem dapatkan sipat jang terpisah dari dzat. Dan kaloe "tiada terpisah diantara dzat dan sipat, nistjaja dia djoega sipat dan dia djoega dzat, nistjaja sama sadja kaloe dikata bahoea alam ada soeatoe dzat jang mempoenjai sipat akan berdiri de- ngan sendirinja, tiada disebabkan dengan soeatoe sebab.

N jatalah, jang kita boleh ertikan djoega maksoednja pa- tokan D ini, ialah alam ini kasarnja, sedang dzat jang berdiri dengan sendirinja itoelah haloesnja atafi djiwanja. Dan kaloe bagitoe, kita djadi balik lagi pada pengertian patokan A atafi C, maka boekan kita semangkin mengerti, tetapi kita djadi terpoetar disitoe-sitoe djoega. Apa—p0e1a kaloe kita tjoba pi- kirkan perkara haloesnja atafi djiwanja alam, nistjaja kita poenja akal tiada mampoe bekerdja. A

Dari sebab itoe, kita djoega tiada moefakat dengan pa- tokan D. *'

E. ALAM DIDJADIKAN OLEH DZAT JANG BERDIRI DENGAN SENDIRINJA.

Adapoen menoeroet patokan E ini, boekan alam djadi dengan sendirinja seperti kita lihat didalam patokan B, akan tetapi alam d i d j a d i k a n asal dari t i a d a, berobah djadi ada dengan pertoeloengan atafi dengan sebab dari Iain pihak. Dan ini sebab dari lain pihak dinamai dzat jang berdiri dengan sendirinja, maka kaloe E dibandingkan dengan A, ada- lah menoeroet A bahoea alam sendiri dipandang sebagai dzat jang berdiri dengan sendirinja, akan tetapi menoeroet E tiada— lah alam mempoenjai kekoeatan dan kekoeasaéln sendiri, ha- njalah bergantoeng atafi berkehendak kepada Iain dzat.

Lebih dahoeloe kita soedah toelak patokan A dari karana kita poenja akal tiada sanggoep bajangkan bagaimana. alam tiada permoelaéin, tiada penghabisan, tiada berwatas, dan tiad-(L berpinggir. Dan kita tiada moefakat sama patokan B, karana kita tiada mengerti bagaimana sang-kosong ada poenja ke-

koeatan sendiri akan berobah mendjadi sang-ada dengan tiada ditoeloeng dari loear, Inaka kaloe oepamanja sang—tiada soedah berobah mendjadi sang-ada, nistjaja Wadjib ada lain dzat jang soedah bikin dari tiada kepada ada.