__68.__.

Dia berkehendak ambil goena dari Iain keadaéin, dan berkehen- dak pada kekajaéin atali pada kebesaran atafi pada kekoeasaéin, inflah moestahi], karana kaloe bagitoe, boekanlah berdiri dengan sendirinja. Dan moestahil djoega Dia ambil perdoeli dan ambil goena pada Alam, maskipoen adanja Alam disebabkan oleh Dia, karana kaloe Dia ambil perdoeli, nistjaja Dia ada poenja keperloean pada Alam, inilah moestahil. Oleh karana itoe Wadjib semporna berdirinja dengan sendiri, tiada berke- hendaék pads. sesoeatoe keadaéin; iaitoe wadjib Semporna Merdika.

Sampai disini aka} tiada dapat djalan lagi akan berpikir lebih djaoeh, karana kita djadi tertjengang dan héran, apakah sebabnja Dzat jang tiada berkehendak pada Dirinja dan tiada berkehendak pada lainnja, rnendjadi sebab tentang adanja Alam. Karana kita tiada sanggoep pikir, apa goenanja dan apa perloenja Dzat itoe mengadaken Alam, kaloe Dia Sendiri tiada berkehendak pada keadaéin Alam, karana moestahil Alam diadakan oleh-Nja, kaloe Dzat itoe tiada berkehendak dan tiada perdoeli adanja Alam.

Karana kaloe oepamanja Dzat itoe mengadakan Alam akan memboektikan pada Alam tentang adanja Dia poenja ke- koeasaéin dan kebesaran dan keadilan clan kesenlpornaém, nis- tjaja boekan sadja Dia berkehendak pada Dirinja sendiri, tetapi djoega berkehendak pada lain keadaéin, inilah moestahil bagi Dzat Jang Semporna Merdika Berdiri Sendirinja.

Sahadan apabila kita tiada sanggoep pikir apa perloenja dan apa goenanja bagi Dzat itoe mengadakan Alam, kita poe- nja akal maoe berbalik pikir jang Alam sendiri mémang sebab jang pertama, tiada permoelaéinnja; sehingga kita djoega djadi toelak adanja lain dzat jang pertama, iaitoe toelak adanja Goesti Allah, dan kita djadi balik pada pengertian A didalam Bahagian II jang lebih dahoeloe kita soedah toelak. Maka kita terpoetar-poetar kombali disitoe-sitoe djoega iaitoe dida-

' lam pengertian A, B, C, D dan E, akan tetapi tiap-tiap kita

pakai perasaéln s a n 0 e b a r i, nistjaja kita pégang kombali pengertian E iaitoe ,,Alam didjadikan oleh lain dzat jang berdiri dengan sendiri.”

Dan kaloe bagini, kita menanja kombali, apa perloenja dan apa goenanja Dzat Jang Semporna Mardika Berdiri Sendiri mengadakan Alam, karana moestahil Dia mendjadikan Alam, kaloe Dia tiada berkehendak dan tiada maoe pada keadaén Alam, maka sekarang kita djadi bingoeng sendiri. Karana kaloe kita pikir Dia berkehendak pada keadaéin Alam, tentoelah dia berkehendak pada keadafin apa djoega, inilah moestahil; dan kaloe dipikir Dia tiada berkehendak pada keadaéin Alam rnaka moestahil Dia mengadakan Alam.

Apakah jang sekarang mesti dipikir? Tiada lain, hanjalah kita mesti balik lagi pikir tentang Dzat Jang Pertama, jang