_3_
Keterangannja I. II, III, IV dan V:
Adapoen definitie I dan II itoelah s 0 e m b e 1" 11 j a i 1- In 0 e, karana kaloe tiada doea perkara itoe, nistjaja akal tiada boleh kerdja akan pikir perkara III, IV dan V. Maka kaloo kita memandang satoe nona jang tjantik dan manis, adalah dirinja nona itoe dikata dzat, adapoen tjantik dan manis dikata sipat dari dzat. Kaloe kita lihat koe— da jang nakal, maka dirinja koeda itoelah dzat, adapoen nakal itoelah sipatnja. Kaloe ada batoe jang hitam, besar dan keras, maka dirinja batoe itoe dikata dzat, adapoen hitam, besar dan keras itoelah sipat-sipat dari dzat. Bagitoelah kaloe poehon besar, adalah ,,poehon” itoe dzat dan ,,besar” itoe sipat.
Akan p i s a h k a n sipat dari dzat, dan pisahkan dzat dari sipatnja, inilah tiada dapat dikerdjai oleh manoesia, boe- kan sadja tiada mampoe tjeraikan dengan perboeatan, tetapi djoega tiada sanggoep kita pisahkan dengan pikiran, karana berapa djoega poetih-koeningnja satoe nona, tiadalah kita poenja pikiran sanggoep pisahkan dia poenja diri (dzat) dengan roepanja (sipat) jang poetih-koening. Maka kaloe api bersipat panas, melainkan kita boleh kata api itoe dzat dan panas itoe sipat, tetapi akan pisahkan diantara api dengan panasnja kita tiada sanggoep pikirkan. Demikian poeia kita tiada mampoe pisahkan dzat dengan thabéélt.
Dan ada lagi jang lebih soesah dipikirkan, kaloe kita maoe menentoekan dzat dan sipatnja w a k t 0 e atafi t i m p 0, karana kaloe sehari-hari kita jakin tentang adanj a wak- toe, toch kita beloem tahoe apa Waktoe itoe dzat ataii sip-at atafi boekan.
Bagitoelah *kita sangka bahoea kita poenja diri dengan gampang‘ boieh terpisah dari pantja-indria, inilah persang- kaéin sadja. Oepamanja kaloe seorang boeta atafi toeii, beloem boleh dikata dia poenja diri terpisah dari sipat melihat dan mendengar, karana kita tiada sanggoep menentoekan bahoen sipat-sipat itoe soedah keloear dari dalam diri, melainkan kita boleh kata sadja jang p a n t j a — i n d r i a itoe soedah r 0 e- s ak, sehingga ,,toe1i” dan ,,boeta” djoega dinamai sipat jang berdiri pada dzat.
Maka biarpoen dzat tiada dapat dipisah dengan sipat dan thabééit antara satoe dengan lainnja, akan tetapi ada perloenja dibikin perbedaan, soepaja djadi t e r a t 0 e 1' did a 1 a m b i t j a r a.
Dengan keterangan diatas, tjoekoeplah kita boleh membé- dakan apa jang dikata benda, dzat, sipat dan thiaibéat. Ketera— ngan Iebih djaoeh tentang pantja-indria akan terseboet 1a.gi.—
VI Kaloe kitav kata tahoe, dimaksoedkan pendapatan kita dengan pertoeloengan p a n t j a —i n d r i a tentang a d a- nj a sesoeatoe dzat dan sipat, boekan tentang tiadanja.