___32.._.

itoe tiada poetoes hoeboengannja satoe sama lain, sehingga mémang satoe dzat belaka. "

Maka kaloe kita beloem mengerti bagaimana alam ditim— boelkan dari kosong mendjadi berisi dengan kekoeatan dari lain pihak, dan djoega kaloe kita tiada mengerti bagaimana kekoeatan boleh datang dari loear alam, maka sepatoetnja kita. djangan maloe akan mengakoe jang kita tiada rnengerti ba5.rai- mana alam didjadikan oleh Allah dan mengakoe tiada mengerti bagaimana Allah ada. '

Dan andai kata, kita boleh mengerti sekedjap mata sadja ha], kedjadian jang demikian itoe, nistjaja kita semangkin héran dan semangkin taéidjoeb apatah goenanja bagi Allah dan apatah sebabnja Dia djadikan alam.

Sampai disini tjoekoeplah kita poenja pepriksaéin bagai— mana pengertian dari patokan A, B, C, D dan E, demikian djoega bagaimana kita mentjarai lain djalan akan mengerti adanja alam, Inaka njatalah tiap-tiap kita landjoetkan pikiran kita, nistjaja kita terbentoer dengan s0eéi1—s0eé9Ll jang lebih soesah, maka selamanja kita djadi mandeg pada salah soeatoe dari oetjapan dibawah ini iaitoe:

Kaloe kita kata kita tahoe apa jang kita tahoe, nistjaja

achirnja kita tahoe apa jang kita tiada tahoe. Kaloe kita kata

kita tahoe apa jang kita tiada tahoe, achirnja kita tiada tahoe apa jang kita tahoe. Dan kaloe kita kata kita tiada tahoe apa jang kita tahoe, achirnja kita tiada tahoe apa jang kita tiada tahoe. Dan bagaimana djoega kita maoe mentjoeri dan soelap dengan perkataéin nistjaja penghabisannja kita mesti berhenti pada perkataéin: ti a d a t a h 0 e.

Sahadan apabila manoesia didalam hal jang demikian, pada soeatoe pihak t e 1* i m :1 dan pada lain pihak berani t o la k adanja Dzat Jang Maha Koeasa, maka patoetlah kita mentjari djawabnja atas pertanjaéin ini: P i h a k In a n a k a h jang -lebih dekat pada kebenaran?

Oleh karana soe-iil ini sangat pentingnja, baiklah kita timbang lagi didalam Bahagian VI. Sekarang kita maoe pin- dahkan kita poenja pikiran akan tjoba priksa bagaimana asalnja agama.———‘