._92 __
merdika tiada berkehendak, tetapi aradhi ialah baqa’ jang berkehendak.
Kita maoe toendjoek dalil—akal bagaimana moestahil- nja ada baqa’ merk aradhi. Adapoen kaloe andainja ada baqa’ jang ,,berkehendak”, nisvtjaja ada qadim jang berkehendak, dan ada qijamoehoe-binafsihi jang berkehendak, sehingga djoega ada baqa’ jang kepingln baqa’ ada qadim jang kepingin qidam, ada kekal kepingin kekal, ada merdika kepingin mer- dika, sehingga djoega ada qadim kepingin baqa’, ada baqa’ kepingin qidam, ada dzat-wadjib-alwoedjoed berkehendak pada woedjoed. Maka segala bitjara dan pikiran jang bagitoe ma— tjam, boekan hoekoem-akal namanja, tetapi ,,boto1 kosong” jang tenggelam-timboel didalam aér, karana kaloe kita teroes- kan bitjara gila-gila bagitoe, nistjaja kita boleh kata: hadis berkehendak pada baroe, dan qidarn-baqa’ berkehendak pada hadis, sehingga kekal kepingin habis, maka orang Moslimin jang poenja akal bagitoe, tiada diberatkan oleh sjaré. (wet-
agama), karana njata oetaknja tiada benar, baik dikasih obat diroemah gila.
Dan dari keterangan jang telah terseboet itoe njatalah, erti qijamoehoe binafsihi, boekan sadja tiada berkehendak pada lainnja, tetapi djoega tiada berkehendak pada Dirinja. Da- lilnj a lagi, kaloe andainja Allah berkehendak pada dzat- sipat dan perboeatanNja Sendiri, nistjaja boekanlah Dia dzat pertama jang soedah semporna merdika, tetapi kepingin lebih semporna lagi dari nafsiah, salbiah dan maiini, sehingga ada
lagi lain dzat jang lebih merdika dan lebih sernporna dari Allah- Taala, inilah moestahil.
Dan lagi moestahil Allah berkehendak pada keadaan apa djoega, dan moestahil berkehendak pada ketiadaan. Dalil- n j a, kaloe andainja Allah berkehendak pada keadaan Dirinja, nistjaja haroes adanja, dan kaloe berkehendak pada ketiadaan Dirinja, nistjaja haroes ke’ciadaanNja nanti akan habislah dzatNja. Demikian poela kaloe berkehendak pada lain keadaan diloear Dirinja, nistjaja lain dzat jang djadikan Dia dan pe- réntah atati larang padaNja, sehingga Allah tergagah oleh lainnja, boekanlah merdika; dan djoega nistjaja alam berikoet sjorga-naraka kekal adanja, karana ada keperloean bagiNja keadaan alam. Dan kaloe berkehendak pada ketiadaéin diloear Dirinja, nistjaja berkehendak pada moemkin maadoem jang
tiada berisi, sehingga tiadalah timboel alam mawdjoed jang berwatas dengan maadoem.
Maka dengan dalil terseboet itoe, njatalah Allah-Taala tiada berkehendak pada waktoe dan zamman, penoeh dan la- pang, terang dan gelap, diam dan gerak; Péndéknja Allah-
Taala tiada dapat dimengerti oleh hadis jang matjam apa djoega.