__71__
jang tiada ada. Karana kaloe Dia poenja béda sedikit sadja harnpir sama dengan bédanja diantara soeatoe keadaém dan Iain keadaén diloear Dirinja, nistjaja kita boleh Iihat sedikit- sedikit, boleh tahoe sedikit-sedikit dan barangkali boleh me- ngerti sedikit-sedikit bagaimana Sipatnja dan Dzatnja. Apa- bila kita soedah terima bagaimana d j a 0 e h b é d 3. 11 j a itoe Satoe Dzat dengan Alam dan den-gan kita, nistjaja terpaksa terima djoega jang kita tiada mengerti. Dan tiap-tiap kita tiada tahoe dan tiada mengerti, nistjaja bédanja dan law 3.- n a nn 3' a (tegenstelling), bahoea Dia teramat tahoe dan ‘Lela amat mengerti. Maka Wadjib Dia itoe Dzat Jang Tiada Di- mengerti, dan Wadjib lagi Dia itoe Dzat Jang Amat Mengerti. Karana kaloe kita maoe moengkir keadaéin lawanannja atafi tegenstelling, nistjaja kita rnesti toelak djoega lawanan di- antara terang dengan gelap, diantara panas dengan dingin, diantara gerak dengan diam, diantara laki-laki dengan pcram— poean dan lain-lain seoepamanja, inilah kita tiada sanggoep toelak.
Dan kaloe kita soedah terima jang kita tiada mengerti bagaimana kita poenja diri dan bagaimana Dia poenja Diri, nistjaja kita mesti terima Dia mengerti Dia poenja Diri dan mengerti lagi kita poenja diri. Dan kaloe kita tiada mengerti Dia poenja Diri, nistjaja tiada mengerti bagaimana Dia poenja koeasa, maka wadjib Dia itoe Dzat Jang Mah-2. Koeasa.
Sampai disini kita djadi sedar bagaimana ketjilnja dera~ djat manoesia dan disini djoega datang timponja jang kita toendoekkan kepala, boekan karana dipaksa atafi dibikin takoet dengan api-naraka, akan tetapi toendoek dan menjerahkan diri dengan segenap hati, ialah boekan toendoek tjara kasar, hanja- lah toendoek dengan perasaéin soemangat, dan mengakoe a d a n j a Dzat J ang Maha Koeasa. Karana akal soedah tiada. sanggoep pikirkan, nistjaja sendirinja kita toeroetkan tim- bangannja perasaéin soemangat, biarpoen kita tiada mengerti bédanja akal dengan soemangat.
Kaloe kita maoe berhenti sebentar dahoeloe, akan tjari bédanja akal dengan sanoebari, kita mesti moelai ingat bédanja pantja-indria satoe sama lain, oepamanja antara pemandangan mata dan pendengaran keeping jang memang njata bédanja, padahal mata dan keeping tiada dapat bekerdja apabila tiada ,,oetak-kepala”, sama sadja dengan pekerdjaéin aka] jang djoe- ga berhoeboeng dengan oetak. Bagitoelah kaloe kita berasa tjinta, kasih, bentji dan takoet, boekan aka] jang kerdja, hanja— Iah sanoebari berhoeboeng dengan oetak, sehingga disini njata- lah bédanja diantara oetak dengan aka], sama sadja bédanja diantara oetak dengan mata atafi koeping. Oleh karana itoe terang sekali bahoea perasaéin sanoebari tiada bergantoeng pada akal, ertinja aka] boekan sanoebari, dan sanoebari boekan akaL